Sunday, April 5, 2015

Bangsa Indonesia Punya Karakter

Gus Mus - Musthofa Bisri
Gus Mus - Musthofa Bisri

Lahirnya Orang Ngetren Baru

Gus Mus - Musthofa Bisri
Gus Mus - Musthofa Bisri

Saturday, April 4, 2015

Gerhana Bulan Total 4 April 2015

Ilustrasi Gerhana Bulan
Ilustrasi Gerhana Bulan
Secara global di tahun 2015 M. ini Insya Alloh akan terjadi 4 kali gerhana. Dua kali gerhana bulan total, satu kali gerhana matahari total dan satu kali gerhana matahari sebagian / parsial. Namun sayangnya dari empat kali gerhana tersebut tidak bisa disaksikan dari Indonesia, kecuali gerhana kedua di tahun ini.
Gerhana kedua di tahun ini adalah Gerhana Bulan Total yang terjadi pada tanggal 4 April 2015. Gerhana bulan ini terjadi 15 hari setelah gerhana matahari total yang terjadi pada hari Jum’at Pon, 29 Jumadil Ula 1436 H./20 Maret 2015 M. Pukul 07:41 UT sampai 11:50 UT. di wilayah Norwegia dengan durasi total 2 menit 27 detik. Gerhana matahari tersebut juga melintasi Rusia, Asia bagian utara, Afrika bagian utara serta seluruh benua Eropa, namun hanya terlihat sebagai gerhana matahari sebagian. Wilayah Australia, Asia Tenggara, Asia bagian selatan, Afrika bagian selatan serta Amerika tidak mengalami gerhana sama sekali.  Termasuk juga wilayah Indonesia tidak terlintasi gerhana matahari ini.
Gerhana bulan total yang bisa disaksikan dari Indonesia tepatnya terjadi pada hari Sabtu Pon, 15 Jumadil Akhiroh 1436 H./ 4 April 2015 M. mulai jam  17:15 WIB sampai 20:44 WIB. Gerhana meliputi Asia, Australia dan Amerika. Dari wilayah Asia dan Australia, gerhana bisa dilihat pada sore hari sementara dari Amerika Utara dan Selatan, gerhana bisa diamati pada dini hari, sedangkan  Timur Tengah, Afrika dan Eropa tidak bisa menyaksikan peristiwa gerhana ini  karena pada saat gerhana terjadi, wilayah tersebut masih siang hari dan bulan masih dibawah ufuk.
Menurut sebagian metode hisab/astronomi, gerhana bulan 4 April 2015 ini tidak termasuk gerhana bulan total (total lunar eclipses) tetapi hanya gerhana bulan parsial (partial lunar eclipses), karena magnitude gerhana tidak sampai 1, akan tetapi menurut metode yang lainnya, seperti metode hisab Ad-Durrul Anieq, gerhana ini termasuk gerhana total karena magnitude gerhananya mencapai 1.0008 dengan durasi total 4 menit 48 detik.
Berikut ini hasil perhitungan gerhana bulan dari beberapa metode hisab dan software astronomy
Dari situs Fred Espenak Nasa, durasi gerhana umbra 3 jam, 29 menit, 1 detik, durasi totalnya 4 menit 43 detik dengan magnitude umbranya 1,00080. Pada release sebelumnya yang dikeluarkan Fred Espenak Nasa pada  Juli 2004, durasi gerhana umbra 3 jam 29 menit 40 detik, durasi totalnya 11 menit 56 detik, dengan magnitude umbra 1.0052.
Diantara metode dan software memprediksi gerhana ini sebagai gerhana parsial (tidak total) karena mgnitude gerhana tidak sampa 1, diantaranya :  Program MoonCalc 6.0 oleh Monzur Ahmed, magnitude 0,996, Program ALW dengan magnitude 0,99, Alghoritma Jean Meeus dengan magnitude 0,996, dan Redshift 3 dengan magnitude 0,994, Starry Night Pro 6.3.9 dan Stellarium 0.7.1. 
Ternyata ilmu hisab yang tidak lain adalah ilmu pasti, dalam menghitung gerhana bulan 4 April 2015 ini terjadi perbedaan yang signifikan antara satu metode dengan metode yang lainnya. perbedaan hasil perhitungan ahli hisab/astronomi ini menjadi tantangan bagi ahli hisab untuk membuktikan keakurasian hisabnya. Mengingat bahwa ilmu hisab bukanlah dogma agama yang cukup hanya dipercayai dan tidak bisa diutak-atik, namun ilmu hisab adalah ilmu eksak, dimana perhitungannya berdasarkan data-data empirik hasil rukyat/observasi estafet para ahli hisab ratusan tahun yang lalu sampai sekarang. Ahli hisab sejati akan selalu mencari kebenaran dari perhitungan hisabnya sehingga hisab yang dipakai benar-benar hisab qoth'I yang realistis sesuai dengan di lapangan.
Pengamatan gerhana bulan berbeda dengan pengamatan gerhana matahari, masuknya bayangan umbra (bayangan inti) kedalam piringan bulan tidak mudah diidentifikasi karena tepi bayangan umbra sifatnya agak blur (Jawa : mbelabur) yakni tidak jelas betul seperti tepi bayangan pada momen gerhana matahari. Hal ini dikarenakan pada saat momen gerhana matahari, piringan matahari dilihat dari bumi terhalang langsung oleh obyek bulan. Sedangkan pada saat gerhana bulan, piringan bulan dilihat dari bumi tidak terhalang oleh obyek apapun, namun cahaya matahari yang menuju permukaan bulan terhalang oleh bumi yang kita tempati, sehingga bulan tidak memancarkan cahaya yang notabene berasal dari matahari. Jika kita menggunakan teleskop dengan zoom yang memadai maka pada saat gerhana bulan total sekalipun, permukaan bulan masih bisa dilihat dari bumi walaupun dengan kondisi sangat redup sekali, hal ini berbeda ketika pengamatan gerhana matahari, walaupun dengan teleskop canggih, permukaan matahari tidak akan bisa dilihat ketika obyek bulan sudah memasuki piringan matahari.
Karena kondisi bayangan umbra yang blur inilah sehingga menyulitkan bagi pengamat untuk mengidentifikasi kapan saat detik-detik awal gerhana umbra (awal irisan bayangan umbra menyentuh permukaan bulan), pun juga kapan saat detik-detik akhir gerhana umbra (akhir irisan umbra terlepas dari piringan bulan). Identifikasi tahapan-tahapan gerhana bulan akan lebih mudah jika didokumentasikan dalam bentuk video maupun foto sehingga bisa dianalisa lebih lanjut kapan sejatinya saat awal gerhana dan akhir gerhana, lama proses gerhana, serta jenis gerhana, total ataukah parsial?.
Dilihat dari kota Surabaya, saat bulan terbit dari ufuk timur sudah dalam keadaan gerhana. Berikut gambar tahapan gerhana bulan secara perhitungan dan penampakan gerhana dengan Stellarium 0.7.1 dari Surabaya
Ibnu Zahid Abdo el‐Moeid, Dewan Pakar Lajnah Falakiyah NU Gresik

Situasi di Hadhramaut Masih Kondusif

Situasi PCNU Yaman
Situasi PCNU Yaman

Konflik antara pemerintah Yaman dan Syi'ah Houtsy semakin memanas. Operasi "Badai Hazm" yang dimulai Kamis diri hari (26/3) kini memasuki hari keenam. Konflik ini melumpuhkan stabilitas ibu kota Shana'a dan beberapa kota di Yaman Utara. Meskipun demikian, warga negara Indonesia (WNI) di provinsi Hadhramaut masih menjalankan aktivitas sebagaimana biasa.

Hingga kini pemerintah Yaman dengan dibantu oleh koalisi negara-negara Arab yang dipimpin Arab Saudi masih melakukan penyerangan terhadap kelompok Syi'ah Houtsy yang disokong Iran.

Demikian keterangan disampaikan Ketua PCINU Yaman Arman Maliky yang kini tengah menempuh pendidikan di Universitas Al-Ahgaff, Tarim, Provinsi Hadhramaut, Republik Yaman kepada stasiun Radio Republik Indonesia (RRI) Pro 3, Jakarta, Selasa (31/3) siang.

Menurut laporan Arman, kondisi WNI di Yaman secara umum masih terbilang aman. "Mengenai keamanaan WNI di Yaman itu relatif tergantung posisi keberadaannya di kota mana. Kalau di Hadhramaut, Yaman Selatan, Alhamdulillah WNI masih aman dan aktivitas masih berjalan kondusif," kata Arman.

Hadhramaut yang merupakan pusat tujuan belajar agama berasaskan Aswaja oleh mayoritas orang Indonesia sampai kini masih stabil dan terkendali. Hal itu bisa terlihat dari aktivitas perkuliahan di Universitas Al-Ahgaff kota Mukalla dan kota Tarim yang masih berjalan seperti biasa. Demikian juga kegiatan belajar mengajar di Ribath Tarim (pondok pesantren), Darul Musthofa dan lainnya yang berada di Hadhramaut, khususnya Tarim.

Perihal akan dievakuasinya semua WNI oleh KBRI Sana'a yang tersebar sejak sebulan lalu, hanya ditujukan kepada WNI yang terancam keamanannya.

"Sekitar 1800-an Pelajar Indonesia yang tersebar di beberapa lembaga pendidikan kota Tarim memilih bertahan dikarenakan situasi dan kondisi masih aman-aman saja," jelas Arman.

Bahkan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Yaman yang berpusat di kota Tarim masih bisa melakukan kajian ilmiah rutin membahas Fiqih Nawazil pada Sabtu (28/3) malam. Dalam acara itu, PCINU Yaman juga menyempatkan do'a bersama untuk keselamatan dan keamanan semua WNI yang berada di Yaman. (Red Alhafiz K)

Friday, April 3, 2015

Akrab dengan Tuhan

Gus Dur
Gus Dur
Entah karena apa, pertemuan Gus Dur dan dengan Kiai Hasyim Muzadi berlangsung kaku, tak seperti sebelum-sebelumnya.

Untuk menyegarkan suasana, Pak Syairozi (saat itu Ketua PW LP Maarif NU Jatim) mulai memancing ger-geran. Ia menceritakan kisah mengenai "pujian" sebelum shalat subuh yang biasanya dibaca di langgar-nya KH. Imron Hamzah (Rais Syuriah PWNU Jatim era 1990-an), yang khas dan unik.

Kalau biasanya di langgar atau masjid orang NU sebelum subuh dibacakan pujian "La Ilaha Illa Anta, Ya Hayyu Ya Qoyyum", tapi di langgar-nya Kiai Imron Hamzah pujiannya malah berbunyi, "La Ilaha Illa Ente, Ya Hayyu Ya Qoyyum".

Mendengar kisah dari Pak Syairozi, kedua tokoh NU itu langsung tergelak. "Wah, ternyata di sana warga NU sangat akrab dengan Tuhan. Buktinya, Tuhan saja dipanggil Ente!" celetuk Gus Dur.

Pancingan berhasil, suasana kembali cair. (Muhammad Nuh)

Gus Mus Berdakwah dengan Ipad


Gus Mus
Gus Mus
Dulu, kiai salaf di pondok pesantren selalu identik dengan kitab kuning yang lusuh. Kini, identitas itu tak lagi berlaku bagi Gus Mus. Perkembangan teknologi membuat Gus Mus - pangilan akrabnya - membaca kitab-kitab kuning tak lagi dengan membawa kitab kuning, tetapi ia memanfaatkan fasilitas komputer tabled buatan Apple. "Kita sangat terbantu dengan teknologi modern ini," ujar Gus Mus

Pria kelahiran Rembang tahun 1944 itu juga menjelajahi dunia maya untuk mengetahui perkembangan zaman dan teknologi. Ia membuat akun jejaring sosial, seperti facebook, twitter hingga blog dengan alamat: http://gusmus.net/.

Gus Mus mengaku sudah berkali-kali memamerkan iPad miliknya. Salah satunya ketika mengisi ceramah pengajian di Sumenep, Madura. Dia menunjukkan video Michael Jackson yang "menyanyikan" lagu Madura.

Ternyata, para kiai tersebut tidak tertarik. Para kiai juga protes karena dianggapnya akan menimbulkan ketergantungan dengan teknologi.. Lalu, Gus Mus memperlihatkan hasil download kitab-kitab kuning dari berbagai perpustakaan di penjuru dunia. "Buka kitabnya gak usah pake tulunjuk jari dengan pelicin ludah, tapi cukup dijawil," kata suami Siti Fatimah itu.

Sejak itu, para kiai mulai tertarik iPad. Tapi, mereka mengeluh kenapa hurufnya kok kecil. Gus Mus langsung menyahut: "Jawil saja dengan dua jari telunjuk dan ibu jari, hurufnya akan langsung membesar". Para kiai langsung terperangah. Sambil guyonan mereka langsung menanyakan harganya.

Menurut Gus Mus, keberadan teknologi terserah pada penggunanya. Ia mencontohkan adanya twitter dan facebook sangat bermanfaat untuk silaturahmi dan belajar dari kicauan orang-orang. "Mudah mendapatkan pengetahuan dari berbagai sumber," kata pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin Rembang tersebut.

Kini, dengan iPad, Gus Mus selain tak repot membawa segepok kitab kuning, tetapi dia cukup mendownload kitab-kitab kuning. Keuntungan lain, dia juga bias belajar di mana saja. "Pas jalan macet kita bisa membaca kitab atau baca Al-Qur'an," katanya. Kini, di mana ada Gus Mus pasti ada iPad yang ditentengnya.