Aswaja News - Menjelang Muktamar NU pada Agustus mendatang, Panitia Daerah Wilayah Jawa Timur menargetkan persiapan empat pesantren di Jombang yang menjadi tuan rumah perhelatan akbar itu selesai sebelum bulan Ramadhan 1436 H.
Showing posts with label Nahdlotul Ulama. Show all posts
Showing posts with label Nahdlotul Ulama. Show all posts
Sunday, April 5, 2015
Friday, April 3, 2015
Banser Blitar Gelar Apel Kesetiaan NKRI
![]() |
| Apel Banser Blitar |
Apel dalam rangka menyambut hari lahir ke-81 GP Ansor ini akan dilaksanakan di lapangan Desa Sukosewu, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. “Apel akan dilaksanakan setelah shalat Jum’at. Sekitar 1000 lebih pasukan akan ikut ambil bagian dalam acara ini,” ujar Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Blitar Ir H Lutfi Azis kepada NU Online pagi ini.
Apel akan diikuti pasukan Banser dari berbagai Satuan Koordinator Rayon (Satkoryon) di Kababupaten Blitar yang terdiri dari 22 kecamatan atau satuan rayon. “Semua satkoryon memastikan bisa ikut dalam apel kesetian ini,” ungkap Lutfi Azis yang kini juga menjabat sebagai ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Blitar itu.
Selain anggota Banser, beberapa ulama dan tokoh akan hadir dalam apel tersebut, termasuk Bupati Blitar H Herry Noegroho bersama anggota Forpinda (Forum Pimpinan Daerah) Kabupaten Blitar. “Sore kita akan apel kesetiaan, malam harinya kita gelar pentas seni yang dilanjutkan gelar Bazar Ekonomi,” tambah Kepala Satkorcab Banser Kabupaten Blitar, Imron Rosyadi.
Imron menambahkan, selain dalam rangka memperingati hari lahir GP Ansor dan Banser tahun ini, kegiatan ini juga sekaligus sebagai ajang konsolidasi anggota menjelang diadakannya Muktamar Ke-33 NU di Kabupaten Jombang, 1-5 Agustus mendatang.
”Ini saatnya ‘manasi mesin’ istilahnya. Apalagi Banser juga menjadi sasaran ancaman ISIS setalah TNI dan Polri. Maka sudah waktunya kita manasi mesin,” katanya.
PBNU Dukung Upaya Evakuasi WNI dari Yaman
![]() |
| H As'ad Said |
“Kami mendukung secara moral terhadap upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan kedutaan besar kita di sana untuk mengevakuasi warga Indonesia,” kata Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali dihubungi NU Online, Kamis (2/4) malam.
“Kita juga mengucapkan terimakasih kepada pemerintah Yaman yang melindungi warga kita di sana,” ujarnya.
“Warga Indonesia di Yaman adalah warga NU juga, kami harapkan semuanya sabar dan tawakkal sambil menunggu pertolongan pihak manapun,” tambahnya.
PBNU menyatakan prihatin atas konflik politik di Yaman yang menyebabkan pertumpahan darah dan menghimbau pihak-pihak terkait untuk mengakhiri kontak senjata.
“Sebagai organisasi ulama kita berharap agar semua pihak terdidik dapat memelopori rekonsiliasi agar konflik segera bisa diselesaikan, bukan malah melibatkan negara tetangga. Pihak-pihak terkait perlu mengedepankan kepentingan warga,” kata As’ad.
Terkait evakuasi WNI, sebelumnya Ketua PCINU Yaman Arman Maliky Selasa (31/3) siang lalu melaporkan bahwa kondisi WNI di Yaman secara umum masih terbilang aman, terutama yang tinggal di Hadhramaut sebagai pusat tujuan belajar.
Menurut Arman, evakuasi oleh pihak kedutaan (KBRI) ditujukan kepada WNI yang terancam keamanannya. Sementara sekitar 1800-an Pelajar Indonesia yang tersebar di beberapa lembaga pendidikan kota Tarim memilih bertahan dikarenakan situasi dan kondisi dinilai masih aman.
Perdalam Aswaja untuk Antisipasi Radikalisme
![]() |
| Ilustrasi Tenaga Pendidik Perempuan |
Maraknya gerakan Islam garis keras menimbulkan keprihatinan. Hal ini menginspirasi berbagai kalangan untuk menyiapkan kader yang mampu membentengi generasi muda dari paham radikalisme, termasuk kaum ibu dan para pendidik perempuan.
“Pengetahuan terhadap dasar-dasar Ahlus Sunnah wal Jamaah ala Nahdlatul Ulama kepada kaum perempuan sangat penting agar bisa disampaikan sejak dini kepada anak-anak,” kata M Afwan Romdhoni dari PW Aswaja NU Center Jatim. Karena itu, sehari penuh pada Ahad (29/3), PW Aswaja NU Center Jawa Timur menyelenggarakan bimbingan pelatihan tentang Aswaja bagi 100 pendidik perempuan.
“Kegiatan ini sebagai jawaban atas kegelisahan para pendidik maupun orang tua atas kian merebaknya gerakan terorisme dan radikalisme,” kata Afwan.
“Selama pelatihan, peserta yang seluruhnya perempuan dan dibatasi 100 orang itu mendapat informasi mendalam seputar kelompok, aliran, dan sekte dalam sejarah umat Islam,” kata Ustadz Afwan, sapaan akrabnya.
Dia menerangkan, sebagai panduan selama pelatihan berlangsung serta untuk bekal usai kegiatan, para peserta yang berasal dari Surabaya, Sidoarjo dan kota sekitar ini juga dibekali buku modul pelatihan Aswaja yakni Risalah Ahlusunnah Wal Jama’ah: Dari Pembiasaan Menuju Pemahaman Dan Pembelaan Akidah Amaliah NU karya Tim Aswaja NU Center Jatim.
Sementara itu, salah seorang aktifis PW Aswaja NU Center Jatim, Fauzi menjelaskan, peserta menerima penjelasan tentang aktualisasi bid’ah hasanah dalam perspektif al-Qur’an dan Hadits. Dan yang sangat khas dari kegiatan ini, lanjutnya, adalah saat mamasuki sesi membedah tradisi dalam tinjauan ahli hadits dan ulama Salafi.
Sejumlah tradisi yang telah mengakar di masyarakat disampaikan. Seperti tradisi ngapati, mitoni dan tingkepan. Juga mengiringi jenazah dengan bacaan tahlil, serta talqin mayit. “Termasuk keabsahan selamatan 7 hari kematian, jamuan makan kepada para penta’ziyah serta tahlil fida’ atau tebusan,” terangnya.
Fauzi menuturkan, membaca al-Qur’an di kuburan, dzikir bersama dan mengeraskan suara, tahlilan, yasinan, maulid Nabi Muhammad SAW, manaqiban hingga haul juga menjadi hal penting dari pelatihan tersebut. “Termasuk tradisi bulan Syuro, Sya’ban, ruwahan dan nyadran, Shafar, manfaat dan dalil istighatsah serta tawassul,” tandasnya.
Media Online Dikuasai Orang Tak Paham Agama
![]() |
| Gus Mus |
Rais ‘Am Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH A Mustofa Bisri, mengaku resah atas peredaran informasi tentang persoalan-persoalan agama yang tersiar di media-media online. Menurutnya, saat ini teknologi informasi di media online dan media sosial justru dikuasai oleh kelompok-kelompok yang tak memahami dan menguasai agama secara mendalam.
“Itu Masya Allah. Jadinya kacau semua,” ujarnya prihatin dalam pengajian dalam rangka ulang tahun unit kegiatan mahasiswa di Kampus III Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Senin malam, 30 Maret 2015.
Gus Mus panggilan akrab Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Rembang, Jawa Tengah, ini mencontohkan, begitu orang membuka mesin pencari di Internet seperti Google mengenai tanya jawab tentang hukum tertentu, maka yang pertama sekali muncul keluar justru dari orang-orang yang tidak jelas.
Dikatakan Gus Mus, seperti dilansir Tempo, sekarang terdapat banyak sekali situs-situs berisi agama Islam yang tidak memahami agama secara mendalam. “Dia tidak dunung (paham), tapi dia menguasai IT (informasi dan teknologi),” kata Gus Mus.
Di hadapan para dosen dan mahasiswa Fakultas Syariah UIN Walisongo Semarang, Gus Mus meminta agar kalangan kampus ikut bergerak untuk menangani masalah tersebut. “Fakultas Syariah harus muncul di Internet. Biar yang lain hanya jadi bandingan saja,” kata Gus Mus. Kampus harus memberi pemahaman kepada orang-orang yang tidak paham Islam.
Sebelumnya, Kemenkominfo telah memblokir situs-situs yang ditengarai menyebarkan paham radikalisme. Kemenkominfo meminta agar masyarakat mengambil peran aktif dalam menghadapi penyebaran paham radikal tersebut.
Islam Indonesia Mulai Diterima Dunia
![]() |
| KH Said Aqil Siraj |
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan bahwa Islam Nusantara kini mulai diterima dunia, karena Islam Nusantara yang dikembangkan para ulama NU itu bisa bergandengan secara damai dengan siapapun.
“Para ulama Afghanistan, Thailand, Malaysia, Filipina, dan sejumlah negara Timur Tengah juga mulai menyekolahkan anak-anak mereka ke Indonesia untuk belajar Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah,” katanya dalam sambutan pada Peluncuran Sukses Muktamar ke-33 NU di Gedung PWNU Jatim, Surabaya, Sabtu malam.
Dalam peluncuran yang ditandai dengan istighatsah (doa bersama memohon keselamatan), tahlil, shalawat, dan pagelaran wayang dengan lakon “Nur Kala Kalidasa” oleh dalang Ki Enthus Susmono itu, ia mengaku dirinya juga baru saja menerima penghargaan dari AS sebagai pemimpin dunia nomor 17 yang mewujudkan kedamaian dunia.
“Pak Imam Aziz (salah seorang Ketua PBNU yang kini menjabat Muktamar Ke-33 NU) juga akan segera ke Patani, Korea untuk menerima penghargaan dari negara itu atas prestasi dalam mengembangkan rekonsiliasi dengan beberapa keluarga PKI yang masih hidup,” katanya.
Di hadapan Gubernur Jatim Soekarwo, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Eko Wiratmoko, Kapolda Jatim Irjen Pol Anas Yusuf, ulama dan pengurus cabang NU se-Jatim, ia mengatakan Islam Nusantara (Aswaja) yang dikembangkan para ulama NU merupakan jalan tengah yang menyelamatkan masyarakat dari konflik dari zaman ke zaman.
“Konflik politik Mu’tazilah-Khawarij melahirkan Aswaja (Imam Hasan Al-Basri), konflik antara rasionalitas dan spiritualitas melahirkan Ilmu Kalam (Imam Abu Hanifah), konflik dalam penafsiran Quran dan Hadits melahirkan Ilmu Fiqih dengan Ijmak dan Qiyas (Imam Syafii), serta konflik hakikat dan syariat yang melahirkan tarekat (Imam Ghazali),” katanya.
Perkembangan terakhir adalah konflik antara negara dengan agama “Konflik negara-agama itu dirumuskan KH Hasyim Asyari (Pendiri NU) dengan konsep Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan dalam satu agama), Ukhuwah Basyariah (persaudaraan dalam satu bangsa), dan Ukhuwah Wathoniyah (persaudaraan dalam satu negara),” katanya.
Bahkan, katanya, Ukhuwah Wathoniyah mungkin lebih utama daripada lainnya. “Itu karena kita lahir, bertindak, bekerja, dan beribadah di atas Tanah Air ini. Tidak mungkin kita bisa beribadah kalau kita tidak memiliki Tanah Air, karena itu para ulama NU menyatakan cinta Tanah Air itu sebagian dari iman,” katanya.
Oleh karena itu, ajaran Islam yang dikembangkan para ulama melalui organisasi kemasyarakatan Nahdlatul Ulama (NU) yakni Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) itu kini menjadi perhatian dunia, karena itu Muktamar Ke-33 NU di Jombang pada 1-5 Agustus 2015 mengangkat tema Islam Nusantara.
“Islam Nusantara yang berpaham Aswaja yang dimotori NU juga sering tanyakan para diplomat asing yang berkunjung ke Kantor PBNU, terutama duta-duta besar dari Eropa,” kata Said Aqil yang mencalonkan diri lagi sebagai ketua umum dalam Muktamar 2015 di Jombang itu.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Jatim Soekarwo juga menyampaikan terima kasih atas peran NU yang menghargai kebhinnekaan bangsa Indonesia, karena hal itu menyebabkan terjadinya titik temu antara agama dan negara, sehingga kehidupan masyarakat menjadi aman dan nyaman yang akhirnya masyarakat bisa sejahtera.
Muktamar Ke-33 NU itu akan dihadiri 4.000-an peserta dan 5.000-an penggembira. Lokasi pembukaan di Alun-alun Jombang, tapi lokasi muktamar akan tersebar pada empat pesantren yakni Pesantren Tebuireng, Pesantren Denanyar, Pesantren Bahrul Ulum, dan Pesantren Rejoso-Peterongan.
“Lokasinya mungkin agak ruwet, tapi kita menghormati para pendiri NU. Kita ingin napak tilas, sekaligus mencari barokah dan belajar kepada para pendiri NU,” kata Ketua Panitia Daerah Muktamar Ke-33 NU H Saifullah Yusuf yang juga Wagub Jatim.
Subscribe to:
Posts (Atom)





